
Sumber: kumparan.com
Penilaian Kualitas Air Tanah serta Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Air tanah merupakan salah satu sumber daya alam yang paling berharga dan menjadi penopang utama kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, seiring dengan pesatnya pertumbuhan penduduk dan aktivitas pembangunan, kualitas air bawah tanah ini menghadapi ancaman pencemaran yang serius.
Melakukan penilaian kualitas air tanah secara berkala bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan demi melindungi kesehatan masyarakat dan masa mendatang.
Pentingnya Ketersediaan Pasokan Air Bersih
Air adalah elemen utama di bumi yang menjadi bagian terpenting bagi manusia. Makhluk hidup tidak dapat bertahan hidup tanpa adanya air, sehingga ketersediaannya sangat dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup.
Akses terhadap sumber air yang sehat dan higienis secara langsung berkorelasi dengan peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Ketika sebuah kawasan memiliki pasokan air yang terjamin kebersihannya, produktivitas warga akan meningkat dan angka penyebaran penyakit menular akibat lingkungan yang buruk dapat ditekan secara signifikan.
Masalah Pencemaran Air Tanah
Meskipun sumber daya air tanah terlindungi di bawah lapisan batuan, kualitas air tanah, baik pada akuifer dangkal maupun dalam, dapat mengalami penurunan akibat berbagai faktor berikut:
1. Peningkatan Kebutuhan dan Pemanfaatan Air Tanah
Lonjakan pertumbuhan manusia yang tidak terkendali secara otomatis meningkatkan volume eksploitasi air baku dari dalam bumi. Tekanan demografis ini memicu penurunan muka air tanah secara masif dan mempercepat risiko intrusi zat asing ke dalam sumur-sumur produksi masyarakat, membuat kualitas air yang disedot semakin menurun dari tahun ke tahun.
2. Kontribusi Sektor Rumah Tangga dan Industri
Aktivitas rumah tangga dan industri menjadi penyumbang beban polutan terbesar bagi ekosistem perairan bawah tanah. Pembuangan limbah cair rumah tangga tanpa penyaringan, penempatan septic tank yang terlalu dekat dengan sumur bor, serta pembuangan ilegal sisa bahan kimia beracun dari aktivitas industri, dapat meningkatkan risiko masuknya zat pencemar ke dalam tanah dan air tanah.
3. Kelemahan Pengelolaan Air dan Sanitasi
Banyak tata kelola infrastruktur sanitasi di permukiman padat penduduk yang belum memenuhi standar teknis baku mutu lingkungan. Berdasarkan penelitian yang menganalisis data SSGI 2022, proporsi rumah tangga yang memiliki sarana toilet dengan sambungan tangki septik tertutup dan rutin dibersihkan masih kurang dari 8%. Kelemahan sistem manajemen pengelolaan air limbah yang asal-asalan inilah yang menjadi pintu masuk utama pencemaran bakteriologis pada sumur warga.
Dampak Pencemaran Air Tanah
Mengonsumsi atau memanfaatkan air tanah yang telah terkontaminasi polutan memberikan dampak kesehatan yang sangat fatal. Secara jangka pendek, air yang tercemar bakteri fekal (seperti E. coli) memicu wabah penyakit infeksi saluran pencernaan akut, seperti diare, kolera, dan tipus.
Secara jangka panjang, buruknya kualitas air baku dan akses air bersih dan sanitasi yang kurang memadai juga berkaitan dengan risiko stunting pada anak. Laporan data SSGI menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan di lingkungan dengan akses air bersih dan sanitasi yang kurang memiliki risiko (odds) 1,17 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting. Paparan air dan sanitasi yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi yang pada kondisi tertentu dapat mengganggu asupan dan penyerapan nutrisi anak, sehingga berkontribusi terhadap risiko gangguan pertumbuhan..
Faktor Pendukung Kesehatan
Untuk memutus mata rantai penularan penyakit dan stunting, pemenuhan faktor pendukung kesehatan lingkungan harus segera diintegrasikan. Langkah awal yang wajib dilakukan adalah memastikan jarak dan konstruksi sumur serta tangki septik memenuhi persyaratan teknis dan sanitasi yang berlaku.
Selain itu, membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, merebus air minum hingga mendidih sempurna, serta melakukan pengujian kualitas fisik dan kimia air secara berkala merupakan investasi preventif terbaik untuk menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Penggunaan sistem pemantauan kualitas air berbasis IoT juga dapat mendukung pengawasan kondisi air secara lebih terukur. Dengan pemantauan yang dilakukan secara berkala atau real-time, perubahan parameter kualitas air dapat diketahui lebih cepat sehingga potensi pencemaran dapat segera diidentifikasi dan ditindaklanjuti.
