
Sumber: www.youtube.com
Pemanfaatan Air Tanah pada Area Lereng Gunung Merapi
Kawasan lereng gunung berapi aktif seperti Gunung Merapi dikenal memiliki dinamika hidrologi yang unik. Di satu sisi, wilayah ini terdapat endapan material vulkanik yang dapat memengaruhi karakteristik tanah dan air tanah. Namun di sisi lain, karakteristik geomorfologi yang miring membuat pengelolaan sumber daya air memerlukan pendekatan khusus.
Memahami tata cara pemanfaatan dan konservasi air tanah di area ini bukan lagi sekadar pilihan lingkungan, melainkan upaya penting demi menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat dan sektor agroindustri.
Alasan Pemanfaatan Air Tanah
Masyarakat di sekitar lereng Merapi memanfaatkan air tanah karena komoditas ini relatif lebih mudah didapat, memiliki volume yang stabil, dan secara alami jauh lebih bersih. Karena posisinya yang berada di dalam lapisan batuan bawah permukaan, risiko kontaminasi langsung dari polutan luar atau limbah permukaan tergolong sangat kecil jika dibandingkan dengan air sungai terbuka.
Hal inilah yang membuat masyarakat lebih memilih dan mengandalkan air tanah sebagai sumber air minum higienis dan penopang kebutuhan domestik.
Karakteristik Air Tanah
Secara hidromorfologi, penyebaran kondisi cadangan air di area vulkanik ini tidak merata dan dipengaruhi oleh faktor iklim, topografi, serta perlapisan geologi. Karakteristik utama yang ditemukan adalah semakin rendah posisi suatu wilayah morfologi, maka kedalaman muka air tanahnya akan menjadi semakin dangkal.
Formasi akuifer produktif dengan kelulusan sedang hingga tinggi umumnya dapat ditemukan endapan vulkanik dan dataran di sekitar kaki gunung api, yang memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat dan kegiatan lainnya.
- Zona Lereng dan Kaki Gunung api (Volcanic Slope & Volcanic Foot)
Pada area lereng atas hingga kaki gunung api, keberadaan air tanah relatif langka dan berada di lapisan yang sangat dalam (beberapa sumur warga memiliki kedalaman lebih dari 15 hingga 23 meter), sehingga masyarakat lebih banyak memanfaatkan mata air alami atau air rembesan.
- Zona Dataran Fluvial Kaki Gunung api (Fluvio Volcanic Foot Plain)
Kedalaman muka air tanah bervariasi dari sedang hingga dalam, yakni berkisar antara 10 hingga 35 meter (dengan rata-rata kedalaman >15 meter).
- Zona Dataran Fluvial Gunung api (Fluvio Volcanic Plain)
Merupakan kawasan paling potensial dengan posisi muka air tanah bebas yang relatif dangkal, yakni berada pada kedalaman 2 hingga 8,1 meter di bawah permukaan tanah, sehingga sangat mudah diakses melalui sumur gali.
Sifat-Sifat Air Tanah
Sifat fisik dan kimia air di kawasan Merapi dipengaruhi oleh interaksi air hujan yang terinfiltrasi dengan lingkungan batuan yang dilewatinya. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa kualitas kimia air di kawasan ini tergolong baik, dengan kandungan unsur hara alami seperti Kalsium, Magnesium, dan Bikarbonat yang memiliki tren semakin meningkat pada wilayah dataran yang lebih rendah.
Kandungan mineral primer ini sangat penting untuk mendukung struktur tulang manusia serta tanaman, namun kadarnya tetap dikontrol oleh kondisi litologi setempat.
Penanggulangan Debit di Area Lereng Gunung Berapi
Kondisi lereng yang curam menyebabkan air hujan cenderung mengalir cepat di permukaan (run-off) dan minim meresap ke dalam akuifer bumi. Untuk mengurangi limpasan permukaan, mengendalikan erosi, dan meningkatkan debit air tanah, diperlukan metode mitigasi mekanis dan konservasi terpadu. Beberapa teknik konservasi air dan tanah dapat diterapkan:
1. Pembuatan Sumur Resapan
Berbeda dengan sumur bor komersial, sumur resapan berfungsi menampung dan meresapkan air hujan ke dalam tanah dangkal. Teknologi lubang resapan ini membantu mengurangi limpasan permukaan, mencegah banjir bandang di hilir lereng, serta membantu menjaga ketinggian permukaan air tanah agar tanah tidak menjadi tandus atau mengalami penurunan.
2. Pembuatan Terasering
Metode terasering atau pembuatan teras (seperti teras datar atau teras bangku) diaplikasikan pada lahan dengan kemiringan tertentu. Bangunan konservasi mekanis ini berfungsi memperpendek panjang lereng dan memperlambat aliran permukaan (run-off), memperbesar volume resapan air hujan ke dalam pori-pori batuan, serta mencegah terjadinya pencucian zat hara.
3. Pembuatan Situ (Embung)
Pembuatan situ, embung, atau parit penampung (rorak/teras saluran) dilakukan dengan membuat wadah atau lubang penampung di area lereng. Bangunan ini berfungsi menampung air hujan dan sedimen, mengendalikan erosi, serta memperbesar volume air yang meresap ke dalam bumi guna meningkatkan persediaan cadangan air tanah di wilayah sekitarnya.
Pemanfaatan air tanah di kawasan lereng Gunung Berapi perlu dilakukan secara bijak agar ketersediaannya tetap terjaga. Pemantauan tinggi muka air tanah secara berkala dapat membantu mengetahui perubahan kondisi air tanah dari waktu ke waktu. AWLR (Automatic Water Level Recorder) menjadi salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk melakukan pemantauan secara otomatis dan berkelanjutan.
Sumber:
- https://ejournal.upi.edu/index.php/gea/article/view/1700/1151
- https://journals.ums.ac.id/fg/article/download/416/312
- https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20180710160248-199-313001/mengenal-sistem-kerja-sumur-resapan-dan-konservasi-air-tanah
- https://repository.ub.ac.id/id/eprint/189691/6/Haris%20Andrianto.pdf
- https://e-journal.hamzanwadi.ac.id/index.php/gdk/article/view/2643/pdf_20
